Libatkan Dinkes dan Puskesmas, Lapas Piru Telusuri TBC pada 100 Warga Binaan
Piru, indonesiatimur.co — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Piru memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian tuberkulosis (TBC) melalui kolaborasi dengan Puskesmas Piru dan Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Sebanyak 100 warga binaan mengikuti sosialisasi dan penelusuran (tracing) TBC di Aula Lapas Piru, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Subseksi Perawatan Narapidana dan Anak Didik Lapas Piru, Ellen Dienza Anakotta, bersama Kepala Puskesmas Piru, Ilona Sopamena. Selanjutnya, materi sosialisasi disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten SBB, Lili Patikeihatu.
Ellen menekankan pentingnya kesadaran warga binaan dalam menjaga kesehatan dan segera melaporkan keluhan yang berpotensi mengarah pada gangguan kesehatan.
“Melalui kegiatan ini, kami mendorong warga binaan agar lebih peduli terhadap kesehatan, memahami gejala penyakit, dan tidak ragu menyampaikan keluhan kepada petugas. Deteksi dini sangat penting agar mereka yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dapat segera ditindaklanjuti,” ujar Ellen.
Sementara itu, dalam pemaparannya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten SBB, Lili Patikeihatu, menjelaskan pentingnya mengenali gejala TBC, melakukan pemeriksaan sedini mungkin, serta mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan apabila terdiagnosis TBC.
“TBC perlu diwaspadai karena dapat menular melalui udara. Karena itu, masyarakat, termasuk warga binaan, perlu memahami gejalanya, seperti batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Jika mengalami keluhan tersebut, segera sampaikan kepada petugas kesehatan agar dapat diperiksa lebih lanjut,” ujar Lili.
Usai sosialisasi, petugas melaksanakan penelusuran TBC dan pemeriksaan kesehatan terhadap 100 warga binaan. Hasil pemeriksaan awal mencatat lima orang terduga TBC, tiga orang mengalami prahipertensi, 11 orang mengalami hipertensi, dan delapan orang terindikasi pradiabetes. Selain itu, lima orang menjalani pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mendukung pemeriksaan TBC lebih lanjut.
Perawat Lapas Piru, Ns. Suryani, menyampaikan bahwa hasil penelusuran menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan.
“Setiap temuan perlu ditindaklanjuti berdasarkan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan. Dengan demikian, warga binaan yang membutuhkan penanganan dapat memperoleh pelayanan sesuai kondisi dan kebutuhan medisnya,” jelas Suryani.
Di tempat yang sama, Ilona Sopamena menegaskan bahwa sinergi antara fasilitas pelayanan kesehatan dan Lapas menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya pencegahan serta penemuan kasus TBC secara dini.
“Penanganan TBC tidak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan kerja sama dalam edukasi, pemeriksaan, dan pemantauan kesehatan agar warga binaan yang membutuhkan pelayanan dapat teridentifikasi dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis,” ungkap Ilona.
Terpisah, Kepala Lapas Piru, Hery Kusbandono, menegaskan komitmen jajarannya dalam memperkuat pelayanan kesehatan melalui kerja sama lintas sektor.
“Kami terus memperkuat koordinasi dengan Puskesmas Piru dan Dinas Kesehatan Kabupaten SBB untuk mendukung deteksi dini, pencegahan penyakit menular, dan tindak lanjut pemeriksaan kesehatan warga binaan,” tegas Hery.
Melalui kegiatan ini, Lapas Piru bersama instansi kesehatan terkait terus mendorong upaya pencegahan dan pengendalian TBC guna mendukung lingkungan pemasyarakatan yang sehat serta pemenuhan hak kesehatan warga binaan. (it-06)


